Ada satu adegan kecil dalam Naruto yang jarang dibahas, tetapi justru menjadi fondasi dari salah satu karakter tergelap dalam dunia anime: seorang anak kurus, berdiri di depan makam kedua orang tuanya, menemukan kulit ular yang terlepas di atas tanah. Di balik tatapan kosongnya, tersimpan sesuatu yang kelak menelan seluruh hidupnya. Anak itu adalah Orochimaru—dan kisahnya bukan sekadar tentang kejahatan. Ia adalah cerita tentang kehilangan, ketakutan, dan usaha putus asa untuk menguasai sesuatu yang tidak pernah bisa benar-benar disentuh: kematian.
Dalam Naruto (Kishimoto, 1999, Ch. 344), diceritakan bahwa Orochimaru kehilangan kedua orang tuanya pada usia yang sangat muda. Kehilangan ini tidak pernah ia pahami, apalagi ia proses secara emosional. Dunia tiba-tiba berubah menjadi tempat yang rapuh dan tidak aman. Ketika Hiruzen menjelaskan bahwa kulit ular melambangkan “kelahiran kembali”, sesuatu di dalam dirinya terpicu. Bagi Orochimaru kecil, itu bukan sekadar simbol, melainkan janji tersembunyi: jika ular bisa “hidup lagi”, mungkin kematian bukanlah akhir. Dari titik ini, benih obsesi terhadap keabadian mulai tumbuh, bukan sebagai ambisi murni, tetapi sebagai mekanisme bertahan seorang anak yang sangat takut ditinggalkan selamanya.
Freud (1923) menjelaskan bahwa kehilangan figur utama di usia dini dapat memicu kecemasan eksistensial, ketakutan mendalam terhadap ketidakkekalan hidup. Orochimaru membawa ketakutan ini hingga dewasa, tetapi tidak dalam bentuk tangis atau ratapan. Ia memproses rasa sakit tersebut melalui mekanisme pertahanan yang disebut intellectualization: mengubah duka menjadi pengetahuan dan penelitian. Dalam manga Chapter 343, ketika ia melakukan eksperimen pada tubuh manusia, kita tidak hanya melihat kekejaman, tetapi melihat seseorang yang berusaha mengendalikan satu hal yang dulu merenggut segalanya darinya: kematian. Pengetahuan menjadi tameng emosional sekaligus senjata psikologisnya.
Perspektif hubungan-objek dari Melanie Klein (1952) membantu menjelaskan mengapa Orochimaru tampak tidak mampu mencintai secara sehat. Kehilangan yang terlalu dini membuatnya kesulitan membangun keterikatan yang aman. Pola ini terlihat jelas dalam relasinya dengan orang-orang di sekitarnya. Anko diberi kekuatan lalu ditinggalkan. Kabuto dibentuk dan dimanfaatkan lebih sebagai alat daripada sahabat. Jiraiya, yang paling mungkin menjadi figur hubungan aman dan suportif, justru ia tolak. Bagi Orochimaru, kedekatan emosional identik dengan risiko kehilangan. Daripada merasakan sakit yang sama lagi, ia memilih menjaga jarak dan berkuasa. Mencintai berarti membuka pintu untuk terluka kembali, dan itu adalah harga yang tidak ingin ia bayar.
Freud juga mengemukakan konsep Thanatos, naluri destruktif yang mendorong manusia untuk menguasai atau melampaui batas-batas biologisnya. Orochimaru adalah representasi ekstrem dari dorongan ini. Teknik Living Corpse Reincarnation yang ia kembangkan bukan hanya cara untuk hidup abadi, tetapi bentuk pemberontakan terhadap pengalaman masa lalunya yang tidak berdaya di hadapan kematian. Tubuhnya yang “lemah” (Ch. 344) ia jadikan musuh pertama yang harus ia tundukkan. Dengan menguasai tubuh, ia seolah-olah membalas dendam pada takdir yang pernah memisahkannya dari orang tuanya.
Melihat semua ini, kita menyadari bahwa Orochimaru tidak berubah menjadi “monster” dalam satu malam. Ia adalah produk dari luka yang tidak pernah disentuh, trauma yang tidak pernah dibicarakan, dan mekanisme pertahanan yang pada awalnya mencoba melindunginya, tetapi kemudian justru menghancurkannya. Obsesi keabadian, eksperimen ekstrem, dan keinginannya menguasai semua jutsu di dunia berakar pada satu sumber utama: ketakutan terhadap kehilangan dan ketidakmampuan menerima bahwa segala sesuatu di dunia ini fana. Di sinilah letak tragedi terdalam Orochimaru sebagai karakter.
Dari sudut pandang psikologi, kisah Orochimaru mengajarkan kita sesuatu yang penting: perilaku destruktif sering kali tidak muncul dari niat jahat semata, melainkan dari luka yang tidak pernah diberi kesempatan untuk sembuh. Ketika duka tidak dipahami, ia dapat berubah menjadi obsesi. Ketika kehilangan tidak diterima, ia dapat menjelma menjadi kebutuhan untuk mengontrol segala hal. Dan ketika seorang anak tidak pernah mendapatkan ruang aman untuk memproses rasa sakitnya, ia bisa tumbuh menjadi sosok yang menakutkan, bukan karena ia memilih jalan itu dengan sadar, tetapi karena itu satu-satunya cara bertahan hidup yang ia tahu.
Referensi:
Freud, S. (1923). The ego and the id. The International Psycho-Analytical Press.
Kishimoto, M. (1999–2014). Naruto [Manga series]. Shueisha.
Klein, M. (1952). The origins of transference. International Journal of Psychoanalysis, 33, 433–438.
Andi Mahdi Sahdani
Professional Hypnotherapist | Trainer | Coach

